Postingan

1.4.a.8. Elaborasi Pemahaman - Menerapkan Prinsip Budaya Positif

  1.4.a.8. Elaborasi Pemahaman - Menerapkan Prinsip Budaya Positif   Studi Kasus   “Anda adalah guru penggerak yang sudah membangun Budaya Positif di kelas. Hal ini dapat dilihat dari perubahan interaksi antara guru dan murid yang melibatkan dan memahami kebutuhan murid. Guru yang menerapkan kesepakatan kelas dan menggunakan kalimat positif dalam berinteraksi dengan murid, sehingga murid tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan mandiri. Akan tetapi, di kelas lain masih ada guru yang memakai hukuman kepada murid agar murid patuh terhadap perintah gurunya, sehingga murid cenderung pasif dan tidak berani mengemukakan pendapat. Anda menjadi resah dan ingin mengajak guru tersebut untuk menerapkan Budaya Positif di kelas. Bagaimana cara yang efektif untuk mengajak guru tersebut untuk menerapkan Budaya Positif di kelasnya?”    Hasil Refelksi dan Analisis Ø    Hal pertama yang saya lakukan adalah menonton bersama video tentang Budaya positif. Tujua...
  “Belajar tanpa refleksi adalah sia-sia. Refleksi tanpa belajar itu berbahaya.”      (Confucius) Pertanyaan 1.      Dari apa yang sudah Anda pelajari, materi apa yang menurut Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran  di kelas Anda?  2.      Apa yang menurut Anda sulit untuk diterapkan? Mengapa menurut Anda hal tersebut sulit diterapkan? 3.      Jika Anda harus menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan Apa yang Anda perlukan? Kemana atau bagaimana Anda akan dapat mengakses dukungan tersebut. 4.      Jika Anda menghadapi sebuah situasi, dimana kebutuhan belajar siswa Anda tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi beranikah Anda mengambil risiko untuk memodifikasi pembelajaran Anda, meskipun hal tersebut mungkin tidak umum atau tidak sesuai dengan sistem yang ada? Jelaskan pendapat Anda dengan alasannya.   Jawab 1.  ...

UMPAN BALIK UNTUK CGP (MODUL 1.3)

 U mpan Balik untuk Tiga Rekan CGP pada Tugas Modul 1.3 (Visi Guru Penggerak) 1.  Julianus Pemetaan Aktor, Pemangku Kepentingan, dan potensi Lingkungan Sekolah dalam Kontribsi pada Pencapaian Visi Guru/Sekolah sangat lengkap dan ini merupakan kekuatan yang harus digali dan dimanfaatkan secara maksimal sehingga menghasilkan pembelajaran berkualitas. Tapi, dari segi pemaparan kekuatan saya lebih senang berbentuk diagram/peta konsep. Dari kekuatan yang dimiliki oleh sekolah Bapak, bagaimana cara menyosialisasikan dan menerapkannya? 2. Mega Sulastri Mantap kekuatan yang dimiliki sekolah Bu Mega. Semoga dapat berkolaborasi dengan baik. Kalau melihat kekuatan dari segi dana tentunya tak akan menjadi masalah dibandingkan dengan sekolah negeri yang sumbernya dari dana BOS saja. Berkaitan dengan itu, bagaimana pengelolaan dan BOS di sekolah Ibu jika dihubungkan dnegan dana Yayasan? 3. Rudy Yanuarto Pemetaan pemangku kepentingan sudah lengkap semoga bisa dilakukan dan dimanfaatkan sebai...

LAPORAN AKSI NYATA LITERASI KEBERAGAMAN

Gambar
  Oleh: Ya’ Dedi Suhandi, S.Pd., M.Pd.   A.     Latar Belakang   Guru penggerak merupakan agen yang akan menciptakan dan mengawal pencapaian profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila merupakan tujuan dari Merdeka Belajar yang mempunyai enam sifat. Pertama, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Kedua, kreatif dalam berkarya, menemukan jalan-jalan yang tidak konvensional, beradaptasi terhadap perubahan dan selalu senantiasa berinovasi. Ketiga, bergotong royong, yaitu kemampuan berkolaborasi dan bekerja sama sebagai satu tim dan ini akan menjadi kompetensi terpenting di dunia kerja masa depan. Keempat, Kebhinekaan, yaitu mencintai keberagaman nasional, mempunyai spirit nasionalisme yang tinggi dan mencintai sesama. Kelima, kemampuan bernalar kritis, yaitu mampu memecahkan permasalahan, mampu berpikir secara kritis, mengolah informasi secara kritis, dan mampu berpikir secara terstruktur dan kuantitatif. Keenam kemandi...

PUISI NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

MENGASAH ASA Karya: Ya' Dedi Suhandi Link Youtube: https://youtu.be/nZFFF4UcT0M Merenung berkaca bermimpi Mengulas kepribadian bernoda Bercak-bercak hitam Mengoles perjalanan panjang Bagaikan onak berduri Terpancang menghias jalan Jalan yang aku lalui Berpikir berbuat dan berprestasi Mulai terkikis noda hitam Dari wajah-wajah penuh asa Menuai mimpi penuh keindahan Berkarya … Berinovasi dan berkreasi Merambah dunia keseharianku Memenuhi jiwa karakterku Demi insan generasi penerus bangsa Yang haus akan kemerdekaan Mengasah asa Berharap intan kemuliaan Berhati mulia beriman dan bertakwa Mengharap rida Sang Pencipta Menghiasi doa-doa Dalam pengharapan keberhasilan Aku mengerti Aku mulai memahami Selama ini Tindak dan sajian Jauh dari kemuliaan Aku mulai sadar Atas kekeliruan Akan kugenggam pemikiran KHD Aku junjung nilai-nilai guru penggerak Sebagai pena dalam mengukir perubahan Sebagai tinta yang menggores kenikmatan Kenikmatan merdeka belajar  ...

LAPORAN AKSI NYATA CINTA LINGKUNGAN

Gambar
  LAPORAN AKSI NYATA  CINTA LINGKUNGAN   Oleh: Calon Guru Penggerak (Ya' Dedi Suhandi, S.Pd., M.Pd.)   A.     Latar Belakang   Konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara merupakan jembatan emas menuju merdeka belajar. Merdeka belajar yang sudah didengungkan beliau sejak 98 tahun silam, yaitu dengan berdirinya Perguruan Taman Siswa. Taman siswa didirikan dengan tujuan untuk memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, kebiasaan, status ekonomi sosial, dan didasarkan atas nilai-nilai kemerdekaan yang asasi. Menurut KHD, Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Pendidikan itu membentuk manusia yang berbudi pekerti, berpikiran (pintar, cerdas) dan bertubuh sehat. Ki Hajar Dewantara yakin dengan konsep merdeka belajar. Bila kemerdekaan adalah hal terpen...

Pengejawantahan Filosofi Pendidikan KHD

Gambar
Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara Murid dan Pembelajaran di Kelas sebelum Mempelajari Modul Filosofi Pendidikan KHD Murid atau peserta didik merupakan objek yang menjadi sasaran dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran, masih terdapat pemikiran bahwa peserta didik merupakan insan yang harus mengikuti semua kemauan kita. Peserta didik harus melaksanakan kegiatan yang sudah dirancang sesuai dengan instrumen. Sang pendidik masih mengejar target kurikulum, bukan kebutuhan peserta didik. Hukuman atau saksi terkadang masih meracuni pemikiran sang Guru. Hal itu dilakukan untuk menuntaskan pembelajaran bukan menuntaskan keperluan dan potensi serta karakteristik peserta didik. Potensi dan kelebihan peserta didik seakan-akan hanya kiasan dalam teori pembelajaran saja. Implementasinya masih jauh dari harapan. Peserta didik masih terbelenggu dengan aturan dan ancaman yang dilontarkan. Peserta didik belum merdeka untuk mengaplikasikan jadi dirinya sebagai insan yang suci....